Jakarta– Sampah-sampah yang memenuhi bibir pantai di kawasan Hutan Bakau Muara Angke dipastikan telah bersih dari sampah. Pembersihan sampah akibat fenomena baratan atau angin barat telah rampung dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup DKI dan Suku Dinas Lingkungan Hidup Kepulauan Seribu kemarin malam, Minggu (25/3).

Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Kepulauan Seribu, Yusen Hardiman mengatakan pembersihan sampah sudah berlangsung sepekan, mulai dari 19 hingga 25 Maret.

“Pembersihan sampah sudah kami lakukan selama sepekan ini. Dan pembersihan sampah yang dilakukan Dinas dan Sudin Lingkungan Hidup sudah selesai,” kata Yusen kepada Beritasatu.com, Senin (26/3).

Volume sampah yang sudah berhasil diangkut dari bibir pantai di kawasan Hutan Bakau Muara Angke ada sebanyak 133 ton. Setelah bersih dari sampah, maka proses selanjutnya adalah pemadatan tanah untuk penanaman mangrove.

“Sekarang sedang proses pemadatan tanah untuk penanaman mangrove (bakau). Nah, proses selanjutnya kami serahkan kepada Komunitas Mangrove,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI, Isnawa Adji mengatakan sampah di kawasan Hutan Bakau Muara Angke atau Hutan Bakau Eco Marine ini harus segera dibersihkan. Karena kawasan ini akan ditanami mangrove oleh Komunitas Mangrove Muara Angke.

“Kami terus kerjakan pembersihan sampah. Sampai kawasan ini benar-benar bersih dari sampah. Dan, alhamdulillah sampah sudah terangkut semuanya,” kata Isnawa.

Seperti diketahui, lautan sampah memenuhi kawasan Hutan Bakau Muara Angke dikarenakan fenomena angin barat yang terjadi sejak Desember 2017. Sampah mulai menumpuk pada awal Februari 2018. Angin barat ini membawa sampah hingga ke perairan Muara Angke.

Untuk itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI mengerahkan 400 petugas kebersihan untuk membersihkan sampah di kawasan tersebut. Alat-alat berat juga diturunkan untuk mengangkut sampah dari pantai.

Bahkan, Gubernur DKI, Anies Baswedan pun langsung turun ke lapangan untuk meninjau langsung kondisi Hutan Bakau Mangrove yang telah dipenuhi lautan sampah, Senin (19/3). Saat itu, Anies mengatakan sampah yang ada mayoritas sampah rumah tangga.

“Sampah ini mulai berkumpul, diduga sejak akhir Desember 2017 karena angin barat yang bergerak dan kemudian merusak lahan yang semula akan digunakan untuk Mangrove dan budi daya bandeng. Ini rusak semua dan justru jadi perangkap sampah,” kata Anies.

Sumber : Beritasatu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *